Kisah Nabi Muhammad "kerikil pengganjal lapar"

kisah teladan Nabi Muhammad, kisah untuk umat manusia
kisah teladan Nabi

Nabi SAW tersenyum sembari menggeleng, “Tidak, wahai Umar. Alhamdulillah, aku sehat.” Umar menahan kata-katanya, supaya tidak terburu-buru jadinya. “Mengapa setiap kali Engkau menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi di tubuhmu bergesekan?” Ekspresi Umar memperlihatkan rasa prihatin, penuh sayang, dan rasa khawatir. “Kami yakin Engkau sedang sakit.”
Shalat kali ini lebih lama dari pada biasanya. Usai shalat, Umar yang begitu khawatir dengan kondisi Rasulullah mendatangi beliau. Berhati-hati dia duduk di sebelah Nabi SAW dan serta-merta disambutnya kedatangan Umar dengan senyum. “Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah engkau menanggung penderitaan yang amat berat. Sakitkah Engkau, ya Rasul?”

Nabi SAW tersenyum lagi. Wajah Nabi memang terlihat sedikit pucat hari ini. Toh, senyum tetap menjadi pelipur lara terbaik bagi sesuatu yang tidak beliau katakan, meski bagi Umar, sesuatu yang tidak dikatakan beliau, ia tahu.

Karena merasa jawaban “tidak” atau “baik-baik saja” sudah tak mencukupi lagi, Nabi SAW lantas berdiri, mengangkat jubah, hingga bagian perut beliau terlihat nyata. Ternyata Nabi mengganjal perut dengan kerikil-kerikil untuk menahan lapar. Kerikil-kerikil yang menimbulkan suara berisik ketika mengimami shalat. Kerikil-kerikil yang memancing keingin tahuan Umar dan menyangka dirimu sedang dalam kondisi sakit yang serius.

“Ya, Rasul,” suara Umar bergetar oleh rasa iba dan penyesalan, “Apakah jika Engkau mengatakan sedang lapar dan tidak punya makanan, kami tidak menyediakan untuk Engkau?”

Nabi SAW menutup lagi perutnya dengan helai jubahmu yang menjuntai. Kemudian menatap Umar dengan pancaran cinta yang utuh, “Tidak, Umar. Aku tahu, apa pun akan kalian korbankan demi aku. Akan tetapi, apa yang harus aku katakan di hadapan Allah nanti jika sebagai pemimpin aku menjadi beban bagi umatku?”

Nabi SAW mengedarkan pandangan ke sahabat-sahabatnya yang lain, “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah dari Allah untukku agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia, terlebih di akhirat.”

Siapapun yang mendengar kalimatmu seketika terdiam. Ada yang terdengar merambat ke bola mata mereka. Beberapa terisak oleh haru. Umar maklum bahwa dia tak akan sanggup melangkah lebih jauh, memaksa Nabi untuk mengikuti kehendaknya. Dia pun hanya terdiam membiarkan detik-detik berjalan satu per satu.
dikutip dari : suarasurabaya.net/al-falah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar